close

Designed and Developed by Web Admin SMK Cendika Bangsa
Muffid Mahnun Copyright 2023 All right reserved

Proposal Cinta — Chapter 7

Published : 16 Juni 2025

Published by : Nila Krisna

Oleh : Erlin Nurhata Dinata — X MP

Setelah menunaikan sholat Ashar, Kanaya membuka Instagram. Jari-jarinya dengan gesit menggeser layar ponsel. Hingga akhirnya, sebuah postingan dari akun resmi sekolahnya menarik perhatiannya: pendaftaran calon OSIS angkatan baru dibuka! Mata Kanaya berbinar. Ini kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Segera ia menyimpan postingan tersebut, sebuah tekad membara untuk ikut serta dalam pemilihan OSIS kali ini memenuhi hatinya. Ia sudah membayangkan dirinya berkontribusi untuk sekolah tercinta.

Pagi yang cerah. Matahari bersahabat, memancarkan sinarnya yang hangat. Kanaya berangkat sekolah dengan motor kesayangannya, mood-nya sedang bagus sekali. Namun, takdir berkata lain. Ban motornya bocor! Mau tak mau, ia harus menghubungi wali kelas dan kesiswaan untuk menjelaskan keterlambatannya. Dengan perasaan malas, Kanaya mendorong motornya, seraya menggerutu pelan.

“Tin… tin… tin!” Suara klakson memecah kesunyian. Seorang siswa dengan almamater abu-abu SMKN 1 Semarang-sama seperti dirinya-berhenti di sampingnya. Ia tampak rapi, rambutnya sedikit berantakan dengan gaya yang effortless cool, dan senyumnya ramah, memperlihatkan lesung pipit di pipi kirinya.

“Kenapa, Mbak? Bocor?” tanyanya, suaranya tenang dan menenangkan.

“Iso lihat toh?” jawab Kanaya kesal, sembari menunjuk ban motornya.

Siswa itu terkekeh, suaranya rendah dan merdu. “Arep bareng ga? Taruh dulu di bengkel, cari yang dekat sini, terus tinggal,” tawarnya, menawarkan bantuan dengan gestur tangan yang ramah dan percaya diri. Ada sesuatu yang menarik dari caranya berbicara, seakan ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

Kanaya langsung menerima tawaran itu. Waktu sangat berharga. Setelah menemukan bengkel, ia meninggalkan motornya dan bergegas ke sekolah. Parkiran sangat sepi; pelajaran sepertinya sudah dimulai. Kanaya berlari menuju kelasnya.

“Terima kasih,” ucapnya kepada siswa tadi sebelum berlalu. Namun, pergelangan tangannya dihentikan.

“Kenalin, aku Arthur, XI TKJ,” kata Arthur sambil bersalaman. Tatapan matanya hangat dan ramah, membuat Kanaya merasa nyaman. Ia mengenakan gelang kulit sederhana di pergelangan tangannya, menambah kesan maskulin namun tetap lembut.

“Oh, iya. Kanaya, X Akuntansi.,” jawab Kanaya, sedikit kikuk, lalu tersenyum. Arthur hanya mengangguk, senyumnya masih terukir di wajahnya. Kanaya menyadari keterlambatannya, dan pamit untuk segera ke kelas. Arthur mengikutinya dari belakang, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, menambah daya tarik dan misteri pada sosoknya. Ada sesuatu yang berbeda pada Arthur, sebuah aura yang membuatnya tampak lebih menarik daripada siswa pada umumnya.

Napas Kanaya tersengal-sengal. Kaki mungilnya berusaha melangkah lebih lebar, namun rok span yang dikenakannya membuatnya sedikit terserimpet. “Assalamualaikum,” sapa Kanaya sambil cengengesan, napasnya masih tersengal, dipadu dengan cengiran polosnya.

“Dari mana, Nduk?” tanya Pak Saiful, guru PAI, sedikit menurunkan kacamatanya.

“Itu, Pak, tadi ban motor saya bocor,” jawab Kanaya gugup, sembari memamerkan senyumnya. Ia menambahkan, “Tapi saya sudah izin ke wali kelas dan bagian kesiswaan, Pak.”

 

Pak Saiful hanya mengangguk, mempersilakan Kanaya duduk. Biasanya, jika ada siswa yang terlambat, Pak Saiful akan mengajukan pertanyaan seputar Islam-kecuali untuk siswa non-muslim, tentu saja. Kanaya pasti bisa menjawabnya dengan cepat. Pak Saiful tahu Kanaya pernah mondok, dan ia tak mau mengambil risiko ditantang oleh siswinya yang cerdas itu.

“Ban motor aku bocor,” bisik Kanaya pada Putri.

“Kok bisa?” tanya Putri.

“Ya, bi-,” Belum selesai bicara, Pak Saiful melempar bola kertas ke arah Kanaya dan Putri. Galuh, yang duduk di belakang mereka, langsung cekikikan.

“Kalian jangan banyak bicara! Cepat nulis! Dari tadi saya menulis di papan, kamu Kanaya baru datang sudah berisik. Mau saya hukum?” Pak Saiful mencoba menakut-nakuti mereka, namun…

“Alah, Pak Saiful, debat hadis sama Kanaya aja nangis!” ejek Putri, tertawa lepas. Siswa lain ikut tertawa. Pak Saiful terdiam. Kurang asem anak zaman sekarang, pikirnya. Sepertinya, hanya Pak Saiful yang waras di kelas ini.

tag :

Karya

Literasi

Pojok Baca

Artikel Lainnya

ppdb smk cendika bangsa

SMK Cendika Bangsa

Kompeten - Cerdas - Santun

Jl. Raya Mojosari 02 A Kepanjen Malang 65163

smkcendikabangsa@yahoo.co.id

0341 - 391450

Sekolah

Tentang Kami

Info Karir

Visi Misi

Unit Bisnis

Mars Cendika Bangsa

Halaman

Hubungan International

Hubungan Industri

Bursa Kerja Khusus

Kesiswaan

Lokasi

Designed and Developed by Web Admin SMK Cendika Bangsa
Muffid Mahnun - Copyright All right reserved