Published : 10 Juni 2025
Published by : Nila Krisna
Oleh : Erlin Nurhata Dinata — X MP
Suara sholawat dan al-Banjari membahana, menggetarkan dada Kanaya. Gelombang suara yang merdu itu bukan sekadar musik, melainkan pertanda: acara Maulid Nabi telah dimulai! Di tengah hiruk pikuk jamaah yang memenuhi aula sekolah, Kanaya tersenyum lega. Semua persiapan yang melelahkan -dari mengurus izin hingga memastikan ketersediaan konsumsi -akhirnya membuahkan hasil. Namun, kelegaan itu hanya sebentar. Bayangan lembaran-lembaran laporan akhir acara memenuhi benaknya. Ia harus segera menyusunnya bersama Kanen. Pikirannya melayang sejenak pada senyum Kanen, cara bicaranya yang tenang dan menenangkan, dan bagaimana ia selalu mampu menyelesaikan masalah dengan solusi yang cerdas. Wajah tampan Kanen dan kepribadiannya yang menawan tak bisa diabaikan, tapi Kanen juga seorang partner kerja yang sangat handal.Ia tahu bahwa menyusun laporan bersama Kanen akan menjadi proses yang efisien dan menyenangkan, meskipun ia harus tetap fokus pada detail-detail laporan. Aroma kopi hangat dan kue-kue tradisional dari kantin sekolah tiba-tiba tercium, mengingatkannya pada manisnya perjuangan dan kolaborasi mereka. Ya, laporan akhir acara ini bukan sekadar tugas administratif, melainkan bukti nyata kerja keras dan kebersamaan mereka dalam menghidupkan peringatan Maulid Nabi. Dan, tentu saja, kesempatan untuk berinteraksi lebih dekat dengan Kanen.
Lampu lorong rusun yang remang-remang tak mampu membuyarkan lamunan Kanaya tentang Kanen. Bayangan wajah tampan dan senyum ramah Kanen masih terpatri jelas di benaknya. Tiba-tiba, suara yang sangat mirip dengan suara lembut Kanen terdengar dari arah aula di lantai empat. Suara itu, seolah panggilan, membuat lamunannya buyar. Dengan napas terengah-engah, Kanaya berlari menaiki tangga. Langkah kakinya tergesa, detak jantungnya berpacu.
Sampai di depan pintu aula, Kanaya mendapati banyak panitia lain sudah berkumpul. Tatapan mereka, penuh tanda tanya, mengarah padanya. Kanaya hanya tersenyum canggung, mencoba menyembunyikan debaran jantungnya yang tak karuan. Ia mendorong pintu aula dan masuk.
Hari Senin, tiga hari setelah keramaian acara sekolah. Kanen menghilang.
Kanaya menyusuri lorong-lorong gedung sekolah yang memang agak angker-udara siang terasa sedikit panas dan pengap. Langkahnya pelan, sepatu ketsnya menjejak lantai yang sedikit berdebu. Bayangan Kanen, samar-samar, menghantuinya di setiap sudut. Ia lelah, putus asa. Kembali ke kelas? Ide buruk.
Lalu, “Kay,” suara itu, dari ujung lorong, menembus kesunyian.
“Astagfirullah! Mas Kanen!” Kanaya tersentak, jantungnya berdegup kencang. Gedung sekolah yang sunyi dan sedikit menyeramkan, jauh berbeda dari keramaian biasa, membuat bulu kuduknya sedikit merinding. Suara Kanen, meski lembut, bergetar dengan kekuatan yang membuatnya terkejut.
Kanen tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak mampu menyembunyikan kelelahan di matanya. “Ayo ke ruang OSIS. Kita rekap absen acara kemarin,” ajaknya, lalu melangkah dengan langkah tenang.
Kanaya masih terpaku sebentar, sebelum menyusul. Aroma kertas dan tinta memenuhi ruangan OSIS yang agak lembap. Mereka bekerja dalam diam, hanya suara pena dan helaan napas yang sesekali terdengar.
“Aaaaaah,” Kanaya meregangkan tubuhnya. “Udah?” tanyanya, melihat Kanen yang sedang merapikan map-map berisi lembaran absensi.
“Udah semua. Ayo balik,” Kanen menjawab, langkahnya ringan saat keluar ruangan. Kanaya mengikutinya.
“Ngapain ngikut?” Kanen bertanya, nadanya datar.
“Mau ke kantin, nyusul Putri,” Kanaya menjawab, sedikit ketus.
“Oh,” Kanen hanya bergumam, lalu mereka berjalan berdampingan. Di depan kantin, mereka menjadi pusat perhatian. Bisikan-bisikan terdengar, tatapan-tatapan mengarah pada mereka. Rayhan, dari kejauhan, memperhatikan mereka dengan tatapan tajam, sebelum Kanaya menghilang di kerumunan, menyusul Putri. Tatapan Rayhan masih mengikuti bayangan Kanaya yang menjauh.
Kanaya berujar pada penjaga kantin, “Bu Ida, ayam geprek satu sama pop ice popcorn caramel satu ya.” Ia lalu menuju meja Putri Galuh dan kawan-kawan. Caca langsung menggoda, “Asik, Rek! Ibu ketua makin sibuk aja!”
Kassandra menimpali dengan cekikikan, “Iya, jan naik-turun terus anak iki!” Teman-teman lainnya ikut tertawa. Kanaya hanya memutar bola mata malas, tak kuasa menahan gemas pada godaan mereka. Di ujung meja kantin, Rayhan memperhatikan Kanaya dengan rasa ingin tahu. Tanpa disadari, senyum tipis terukir di bibirnya melihat tingkah Kanaya yang begitu ceria bersama teman-temannya.
Putri berseru begitu pesanan mereka datang, “Wes, Rek, wes! Makan-makan!” Namun, canda tawa mereka tak kunjung reda. Kanaya, dengan bibir sedikit manyun, akhirnya ikut bergabung, sesekali menyela dengan celetukan-celetukan kecil yang membuat teman-temannya tertawa lebih keras lagi. Aroma ayam geprek dan manisnya pop ice caramel semakin menambah keceriaan suasana makan siang mereka. Rayhan masih memperhatikan mereka dari kejauhan, sebuah perasaan hangat memenuhi dadanya.
Matahari sore seolah enggan tenggelam, padahal baru pukul tiga sore. Bel pulang SMK 1 Semarang telah berdentang, menandai berakhirnya aktivitas sekolah. Kanaya begitu bersemangat ingin pulang; otot-ototnya meronta ingin segera beristirahat di kasur empuknya. Namun, parkiran sekolah sangat ramai. Ia harus menunggu hingga suasana sedikit lebih lengang. Setelah beberapa lama, akhirnya parkiran sedikit bernapas, dan Kanaya pun bergegas pulang, langkahnya diiringi senyum lega.
Setelah menunaikan sholat Ashar, Kanaya membuka Instagram. Jari-jarinya dengan gesit menggeser layar ponsel. Hingga akhirnya, sebuah postingan dari akun resmi sekolahnya menarik perhatiannya: pendaftaran calon OSIS angkatan baru dibuka! Mata Kanaya berbinar. Ini kesempatan yang ia tunggu-tunggu. Segera ia menyimpan postingan tersebut, sebuah tekad membara untuk ikut serta dalam pemilihan OSIS kali ini memenuhi hatinya. Ia sudah membayangkan dirinya berkontribusi untuk sekolah tercinta.
tag :
Kompeten - Cerdas - Santun
Jl. Raya Mojosari 02 A Kepanjen Malang 65163
smkcendikabangsa@yahoo.co.id
0341 - 391450
Tentang Kami
Info Karir
Visi Misi
Unit Bisnis
Mars Cendika Bangsa
Hubungan International
Hubungan Industri
Bursa Kerja Khusus
Kesiswaan
Designed and Developed by Web Admin SMK Cendika Bangsa
Muffid Mahnun - Copyright All right reserved