Published : 04 Juni 2025
Published by : Nila Krisna
Oleh : Erlin Nurhata Dinata – X MP
Kanaya melangkah cepat, matanya tertuju pada Kanen yang tengah tertawa bersama teman-temannya di kantin yang ramai. Hijabnya yang berwarna putih itu bergoyang lembut mengikuti langkahnya. Ia menemukan Kanen, dan tanpa basa-basi menghampirinya. Senyumnya yang manis sedikit gugup saat ia sampai di meja tersebut.
“Mas Kanen,” sapa Kanaya lembut. Tawa mereka langsung berhenti. Akbar dan Rasya, teman-teman Kanen, saling melirik penuh arti. “Ini print proposalnya, Mas. Yang kemarin diminta.”
Kanen mengangguk, menyesap kopinya. Tatapannya sekilas mengenai Kanaya, namun ada sesuatu yang berbeda di matanya, sesuatu yang tak bisa diartikan Kanaya. “Taruh saja,” jawabnya singkat.
“Oke, aku ke kelas dulu ya,” pamit Kanaya. Ia ingat sesuatu dan kembali, membuat Kanen dan teman-temannya mengangkat alis. “Eh, lupa! Ini kembalian uangnya, Mas.” Kanaya memberikan uang itu.
Kanen menolak santai, “Ambil saja.”
“Beneran nih?” goda Kanaya, menyipitkan mata. Pipinya merona sedikit.
“Iya, sudah sana,” jawab Kanen, namun ada sedikit keraguan dalam suaranya. Ia sebenarnya terkesan dengan Kanaya, keanggunan dan kesopanannya sangat menarik. Namun, di lubuk hatinya, ia menyimpan sebuah kenangan yang tak bisa ia lupakan. Sebuah cinta yang terpendam untuk seseorang yang telah lama pergi.
“Makasih, Mas! Dadah!” Kanaya berbalik, dan saat itu juga Rayhan, cowok tinggi besar yang sedari tadi memperhatikannya dari kejauhan, berpapasan dengannya. Rayhan baru saja bertemu Kanen dan kawan-kawannya. Ia sempat melirik Kanaya sekilas sebelum melanjutkan langkahnya. Tatapannya penuh kekaguman.
Rayhan memperhatikan Kanen dan Kanaya. “Siapa itu? Kayaknya baru,” tanya Rayhan penasaran kepada teman-temannya.
“Anak kelas X,” jawab temannya.
“Jurusan apa?”
“Wih, tumben nanya-nanya. Kepincut, ya? Hayo ngaku, Bang Rayhan! Kepincut cewek… ekhem!” goda Rasya dan Akbar, membuat Kanen terkekeh. Rayhan hanya tersenyum misterius. Ia memang tertarik pada Kanaya, kecantikan dan kelembutannya sangat memikat. Namun, ia tahu, perhatian Kanaya tertuju pada Kanen. Dan itu membuat hatinya sedikit sakit. Rayhan menyadari bahwa ia harus bersaing dengan perasaan yang terpendam dalam hati Kanen. Perasaan untuk seseorang yang telah lama pergi, tetapi masih terukir jelas dalam ingatannya.
Kanaya melangkah pergi dengan perasaan campur aduk. Senyumnya masih tersisa, namun hatinya dibebani rasa bersalah. Ia tahu Kanen menarik, tetapi ada jarak dalam tatapan Kanen-jarak yang ia pahami sebagai akibat dari beban yang ia sendiri turut ciptakan. Kenangan yang dalam, sebuah cinta yang tak terungkap, mungkin memang ada dalam diri Kanen, tetapi Kanaya juga menyadari bahwa ia sendiri yang membuat jarak itu semakin lebar.
Sementara itu, Rayhan masih terpesona oleh keanggunan Kanaya.
Ia merasa ada sesuatu yang familiar, namun tak mampu mengingatnya.
Rasa penasaran itu semakin menguatkan niatnya untuk mengenal Kanaya lebih dekat.
“Ray, ayoo!” seru Akbar, menariknya dari lamunan. “Makanan akan habis!”
Rayhan mengangguk, namun pikirannya masih tertuju pada Kanaya.
“Sebentar,” jawabnya, melirik Kanaya yang menjauh. Ia ingin mengikutinya, tetapi menahan diri.
Di kelas, Kanaya duduk dengan pikiran melayang. Proposal acara Maulid Nabi yang ia berikan kepada Kanen-proposal yang sebenarnya adalah hasil kerja keras Kanen-membuatnya merasa bersalah. Ia hanya mencetaknya, sementara Kanenlah yang mengerjakan semuanya. Mereka berdua adalah pasangan sekretaris, namun beban kerja seolah hanya dipikul Kanen seorang. Ia ingin mengenali Kanen lebih baik, tetapi rasa bersalah menghalanginya.
Rayhan dan teman-temannya menikmati makan siang. Namun, Rayhan terus memikirkan Kanaya. “Siapa dia sebenarnya?” gumamnya. Ketertarikan yang kuat bercampur dengan kesadaran akan persaingan yang mungkin ada dengan Kanen. “Aku harus berbicara dengannya,” tekadnya.
Setelah makan siang, Rayhan mencari Kanaya. Ia menemukannya di perpustakaan sekolah, membaca buku. Ia mendekat dengan hati-hati. “Hai,” sapa Rayhan santai. Kanaya terkejut.
“Oh, hai!” jawab Kanaya gugup. “Ada yang bisa kubantu?”
“Aku ingin mengenalmu lebih baik. Namaku Rayhan,” katanya tersenyum.
“Kanaya,” jawabnya, merasa lebih nyaman. “Senang bertemu denganmu.” Mereka mulai berbincang. Rayhan mengamati Kanaya, kemudian berkata, “Aku melihatmu cukup aktif, ya? Banyak kegiatan sekolah yang kamu ikuti. Aku sendiri nggak pernah tertarik dengan organisasi, tapi jujur, aku cukup mengagumi orang-orang yang bisa menyeimbangkan akademik dan kegiatan ekstrakurikuler seperti kamu. Bagaimana caramu mengatur waktu?”
Kanaya tersenyum, sedikit terkejut dengan pertanyaan Rayhan yang tidak terduga. “Sebenarnya cukup sulit,” akunya jujur. “Butuh manajemen waktu yang ketat dan prioritas yang jelas. Kadang juga harus rela mengorbankan waktu istirahat.” Rayhan mengangguk, mendengarkan dengan penuh perhatian. “Hebat. Aku rasa itu butuh dedikasi yang tinggi.
Memang, aku kurang tertarik dengan kegiatan organisasi, tapi melihatmu, aku jadi berpikir mungkin aku salah selama ini.”
Kanaya merasa senang karena Rayhan tidak memuji proposalnya (yang sebenarnya bukan buatannya), melainkan mengagumi kemampuannya dalam manajemen waktu dan kegiatan ekstrakurikuler. Percakapan mereka berlanjut, membahas tentang tantangan dan kepuasan yang didapat dari berorganisasi.
Dari kejauhan, Kanen memperhatikan mereka. Ia merasa cemburu, tetapi juga memahami beban yang dipikul Kanaya. Ia tahu proposal itu adalah hasil kerja kerasnya, dan melihat Kanaya mendapatkan perhatian dari Rayhan, perasaannya menjadi rumit. “Apa yang harus kulakukan?” pikirnya, bingung.
Hari itu berlalu dengan perasaan yang saling bertabrakan. Kanaya merasa senang berbincang dengan Rayhan, namun beban kesalahan terus menghantuinya. Rayhan bertekad untuk mendapatkan hati Kanaya, sementara Kanen terjebak dalam perasaan rumit, antara cinta yang terpendam dan rasa bersalah atas beban yang dipikul Kanaya. Ketiganya terjerat dalam jalinan rumit, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaan mereka yang sebenarnya. Namun, sebelum itu, Kanaya harus menyelesaikan masalah yang ia sendiri ciptakan.
tag :
Kompeten - Cerdas - Santun
Jl. Raya Mojosari 02 A Kepanjen Malang 65163
smkcendikabangsa@yahoo.co.id
0341 - 391450
Tentang Kami
Info Karir
Visi Misi
Unit Bisnis
Mars Cendika Bangsa
Hubungan International
Hubungan Industri
Bursa Kerja Khusus
Kesiswaan
Designed and Developed by Web Admin SMK Cendika Bangsa
Muffid Mahnun - Copyright All right reserved