Published : 03 Juni 2025
Published by : Nila Krisna
Oleh : Erlin Nurhata Dinata – X MP
Kringgg… bel istirahat pertama berbunyi nyaring, menggema dari gedung ke gedung. “Putri, aku rapat dulu. Kalau nanti aku belum datang pas istirahat selesai, izin ya,” pinta Kanaya, sambil merapikan buku-buku yang berserakan di mejanya. “Rapat apa?” tanya Putri, mengerutkan dahi bingung. “Itu loh, yang kemarin, yang dipanggil mau lanjut lagi,” terang Kanaya. “Oh, oke deh,” jawab Putri, tanpa melepaskan ponselnya yang sedari tadi digunakan untuk mengedit presentasi. “Makasih, Put!” Kanaya melambaikan tangan, lalu bergegas turun menuju gedung G, melewati gedung F dan menyusuri koridor rusun. Ia sampai di ruangan rapat, menyapa Fira dan teman-temannya. “Udah lama?” tanya Kanaya. “Belum lama,” jawab Anya dan Keke bersamaan. Pandangan Kanaya tak sengaja bertemu dengan seorang siswa yang kemarin bertabrakan dengannya di depan gedung G. Siswa itu tersenyum tipis. Ya, itu Kanen, partner kerjanya mulai hari ini.
“Oke, semua, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” sapa Bu Luluk ramah, dengan senyumnya yang menawan. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” balas seluruh peserta rapat. “Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan acara Maulid Nabi. Kemarin kita sudah menentukan struktur kepanitiaan. Para ketua, wakil, bendahara, dan sekretaris, silakan maju ke depan, di sebelah kanan, untuk berdiskusi kecil,” perintah Bu Vegy. “Yang lain, saya beri waktu untuk membentuk tim inti dan menentukan divisi yang ingin diisi,” tambah Pak Qosim.
Suasana rapat serius. Setelah beberapa saat, Bu Luluk mengumumkan susunan kepanitiaan: Ketua CO Acara: Bella (XI AKL), Keamanan: Angga (XI TKJ), Konsumsi: chelva (X APHP), Dokumentasi: Jesica (X DKV), Sapras: Arya (XI TKR), MC: chaca(X DPB) dan Vico (X Tkr). “Yang ingin menjadi anggota, silakan pilih divisi di grup, lalu buat grup masing-masing divisi. Mengerti semua?” tanya Bu Nungky.
“Mengerti, Bu!” jawab para siswa serentak. “Baik, Farel dan Raga, silakan maju menyampaikan sepatah dua kata,” lanjut Bu hanum.
Farel maju, “Assalamualaikum. Teman-teman, saya ingin memberitahukan bahwa saya dipercaya sebagai ketua panitia acara Maulid Nabi tahun ini. Mohon dukungan dan kerjasamanya agar acara ini dapat berjalan lancar dan penuh berkah. Mari kita bekerja sama untuk kesuksesannya. Terima kasih!” Selanjutnya atthara, bendahara, menyampaikan, “Assalamualaikum. Teman-teman, saya diberi amanah sebagai bendahara. Untuk mendukung kelancaran acara, setiap siswa diminta kontribusi Rp5.000 untuk biaya snack dan minuman. Uang akan dikumpulkan melalui ketua kelas masing-masing. Semoga semuanya berpartisipasi dan acara berjalan lancar. Terima kasih!” “Keren sekali, Atthara, good job!” puji Bu luluk.
Kanaya berjalan menyusuri koridor, saat itu ponselnya berdering menampilkan nomor tak dikenal. Ia berhenti, melihat pesan tersebut: “628211***** Nanti pulang sekolah, temui aku di pesen Kopi. Kanen..” Kanaya tertegun. “Dari mana nih orang dapat nomor HP-ku? Bodoh banget, ketinggalan pelajaran nanti,” gumamnya, lalu melanjutkan langkahnya. Sebuah senyum tipis terukir di wajah siswa di belakangnya saat melihat Kanaya pergi. Ian juga melangkah menuju rusun kelasnya.
Bel pulang sekolah berdenting nyaring, memecah kesunyian siang. Kanaya tersentak, mengingat janji bertemu Kanen di kafe. Ia bergegas merapikan buku dan alat tulis, jantungnya berdebar-debar. “Duluan ya, Put!” pamitnya, suara sedikit terburu-buru. Putri, sahabatnya, mengernyit heran. “Buru-buru amat? Mau ke mana?” tanyanya, penasaran. “Mau lanjut bikin proposal,” jawab Kanaya, senyum tipis mengembang di bibirnya. Putri mengangguk-angguk, “Ohhh…”
“yoga, tolong kembalikan mapku ke admin, ya! Makasih!” seru Kanaya, melenggang cepat meninggalkan kelas. Galuh, teman sekelasnya, tertawa kecil. “Kayak dikejar macan!” candanya. Putri menyikut pelan lengan Galuh, “Biasa, calon orang sibuk,” bisiknya, ikut tersenyum.
Di kafe, Kanaya menemukan tempat duduk yang nyaman. Ponselnya bergetar. Pesan dari Kanen: Xll pH: Di atas. Kanaya memesan es kopi susu, lalu naik ke lantai atas. Kanen sudah ada di sana, duduk santai dengan hoodie hitam bertuliskan “ERIGO”, secangkir kopi hitam di depannya. Suasana kafe yang remang-remang menambah kesan misterius pada sosok Kanen
Hai,” sapa Kanaya, sedikit gugup. Kanen hanya berdehem, membuka laptopnya, jari-jari lentiknya menari di atas keyboard. Ia menggeser laptop ke arah Kanaya. “Gimana?” tanyanya, tanpa menoleh, suaranya tenang dan rendah. Kanaya mengerutkandahi, menatap layar laptop yang penuh dengan kode-kode yang asing baginya. “Gak usah sungkan, pindah aja ke halaman berikutnya,” kata Kanen, tanpa menoleh, asap rokoknya mengepul tipis di udara. Ia memperhatikan Kanaya yang terdiam, wajahnya tampak bingung. “Ada masalah?” tanyanya, kali ini suaranya lebih lembut.
“Emmm… aku nggak bisa pakai laptop,” akunya, frustrasi. Kanen mengangkat satu alis, sedikit terkejut. “2024, nggak bisa pakai laptop? Unik juga,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Terus, waktu ujian kelulusan SMP gimana?” tanyanya, penasaran. “Pakai kertas,” jawab Kanaya polos, membuat Kanen terkekeh pelan. “Rata-rata SMP sekarang sudah ada pelajaran TIK,” kata Kanen. “Aku di pesantren,” jelas Kanaya. “Pantes,” sahut Kanen, mengangguk mengerti. “Berarti nggak bisa?” tanyanya lagi. Kanaya menggeleng.
Kanen mendekatkan kursinya, menggeser laptop lebih dekat. “Tak ajari,” ucapnya sabar, senyum tipis muncul di bibirnya. Ia mengajari Kanaya dengan sabar, menjelaskan setiap langkah dengan detail. Kanaya, awalnya masih sedikit canggung, perlahan mulai fokus. Namun, sesekali tatapannya teralihkan pada wajah tampan Kanen. Ganteng tapi dingin…, gumamnya dalam hati.
Dua jam berlalu dengan cepat. Kanen pamit, menyerahkan flashdisk dan selembar uang seratus ribu kepada Kanaya. “Print semua dokumen yang sudah disiapkan di situ. Kalau nggak tahu, langsung tanya tukang fotokopinya,” jelasnya, lalu berdiri.
“Mas Kanen!” panggil Kanaya, suara sedikit panik. Kanen menoleh, alisnya terangkat. “Uang nya nggak usah!” teriak Kanaya lagi. Kanen tersenyum kecil, “Bawa aja,” ujarnya, lalu menghilang di balik pintu. Kanaya tersenyum tipis, menatap flashdisk di tangannya, perasaan campur aduk memenuhi hatinya.
tag :
Kompeten - Cerdas - Santun
Jl. Raya Mojosari 02 A Kepanjen Malang 65163
smkcendikabangsa@yahoo.co.id
0341 - 391450
Tentang Kami
Info Karir
Visi Misi
Unit Bisnis
Mars Cendika Bangsa
Hubungan International
Hubungan Industri
Bursa Kerja Khusus
Kesiswaan
Designed and Developed by Web Admin SMK Cendika Bangsa
Muffid Mahnun - Copyright All right reserved