smkcendikabangsa@yahoo.com 0341-391450

Perjuangan (JUARA II lomba Cerpen HUT RI 75 SMK Cendika Bangsa)

SMK Cendika Bangsa > karya cendika > Perjuangan (JUARA II lomba Cerpen HUT RI 75 SMK Cendika Bangsa)

Perjuangan

By : Gunawan Wiratama

Gemuruh langkah kaki Tentara Belanda terdengar sampai bermeter-meter jauhnya. Menggetarkan bumi Ibu Pertiwi yang diiringi suara petir di langit. Jejak kaki yang ditinggalkan para tentara itu berlumuran darah para rakyat jelata yang mencoba melawan penindasan dan ketidakadilan yang mereka alami. Para wanita menangis melihat tubuh suami yang mereka cintai kini terkapar tak bernyawa. Doa dan harapan yang mereka panjatkan untuk keberhasilan para suami yang sedang berjuang kini berubah menjadi isak tangis dan makian.

Para Petani memperjuangkan secuil hasil panen mereka yang diambil paksa oleh para Tentara Belanda. Para Ayah berjuang demi kebahagiaan keluarga mereka yang telah direnggut oleh para Penjajah. Para Ibu melawan demi tangisan anak-anak mereka yang tengah kelaparan. Anak-anak pun tak luput dari penderitaan itu ketika melihat ayah dan ibu yang mereka cintai terbunuh oleh peluru senapan para Tentara di depan mata mereka.

Anak-anak yang tersisa hanya bisa menangis hening sambil terus memantau keadaan dari dalam lumbung padi tempat persembunyian mereka. Tanpa ampun tentara-tentara itu membakar rumah gubuk milik penduduk Pribumi yang sudah mereka bunuh. Takut, sedih, marah, dan kecewa mereka pendam didalam hati sanubari mereka yang penuh luka tak berdarah. Luka yang tak akan pernah bisa sembuh, meski sekuat apapun mereka mencoba menyembuhkannya.

Tak lama hujan deras turun, seolah mengisyaratkan bahwa alam pun ikut serta menangisi ketidakadilan yang terjadi. Hujan deras itu memaksa para Tentara Belanda untuk kembali ke markas mereka, memadamkan api yang tengah membakar rumah-rumah, serta menghanyutkan darah yang menggenang di sepanjang tempat. Tetesan air hujan itu bagaikan sebuah pertolongan Tuhan kepada anak-anak yang tengah ketakutan bila tentara itu berasil menemukan mereka. Menyelamatkan anak-anak itu dari perbudakan yang mungkin akan mereka alami bila saat itu mereka tertangkap.

Hujan telah reda, satu-persatu anak-anak itu keluar dari dalam lumbung padi. Jumlah mereka tak lebih dari 10 anak, 4 perempuan dan 6 laki-laki yang 3 diantaranya masih sangat kecil dan tak mengerti apa-apa. Baru kemarin sore mereka semua bermain bersama, kejar-kejaran disawah milik orang tua mereka, menunganggi kerbau dan memandikannya di sawah bersama sang ayah. Kini, lenyap sudah kenangan indah mereka, pupus sudah harapan dan cita-cita besar mereka.

Anak-anak itu merenung sedih, bersimpuh pada lutut mereka yang masih gemetaran. Mereka pun sudah lupa bagaimana caranya menangis mengeluarkan air mata. Begitu dalamnya luka yang mereka derita hingga tak ada satu pun yang tahu selain Tuhan dan mereka sendiri.

Kemudian, diantara anak-anak itu. Berdirilah seorang anak berbadan kurus yang masih bergetar kakinya. Anak itu bernama Wiro putra dari pasangan petani yang tewas dibunuh Tentara Belanda. Dengan suara yang lantang dan nada yang tinggi, ia menyuarakan semangat amarahnya kepada anak-anak yang lain.

“Teman-temanku semuanya, kita telah mengalami musibah yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Orang asing itu tiba-tiba datang dan merampas harta kekayaan kita, merampas kebebasan yang seharusnya jadi milik kita, merenggut jerih payah yang dikeluarkan orang tua kita. Menghanguskan impian dan cita-cita kita. Mereka menginjak-injak harga diri kita, dan dengan tega mereka menumpahkan darah orang yang kita sayangi.

Tak akan, tak akan pernah aku biarkan ini semua berakhir sampai disini saja. Tak akan pernah kubiarkan mereka menimkati hasil bumi ini diatas penderitaan rakyat jelata yang tak mengerti apa-apa.

Ini bukanlah saatnya kita untuk bersedih, namun ini adalah saatnya kita untuk berjuang. Aku selalu percaya bahwa Tuhan akan selalu melindungi hambanya yang selalu berusaha dan berdo’a. Jadi teman-teman tidak perlu takut. Kuharap teman-teman semua ikut berjuang bersamaku”

Mendengar perkataan Wiro tadi, anak-anak yang lain pun ikut bangkit dan menyatukan hati dan pikiran mereka. Kesedihan yang meremukkan hati mereka kini berubah menjadi semangat amarah yang siap memperjuangkan apa yang menjadi hak mereka. Anak-anak yang tadinya lugu dan ceria kini berubah menjadi sosok pejuang yang penuh amarah dan dendam.

Persiapan pun mereka lakukan. bambu runcing, sabit, bahkan pisau dan segala hal yang bisa dijadikan senjata mereka bawa. Anak-anak malang itu tak pernah memegang ataupun menggunakan senjata sebelumnya. Namun keadaan memaksa mereka, dan amarah menghilangkan rasa takut mereka hingga tak ada satu pun yang dapat menghentikan mereka. Mereka pun berangkat.

Hutan, gunung, hingga jalanan bebatuan mereka lewati demi mencari markas pasukan Belanda. Teriknya siang hingga dinginnya malam mereka lalui dengan ketabahan. Tak jarang anak-anak yang masih kecil menangis karena sudah tak kuat lagi berjalan. Hingga memaksa Wiro untuk mengambil sebuah keputusan yang mengejutkan anak lain terutama Asih.

“Asih, didekat sini terdapat sebuah desa kecil yang belum sempat didatangi Tentara Belanda. perjalananmu cukup sampai disini kau tidak perlu ikut .” Ucap Wiro kepada Asih.

“Tidak, aku ingin tetap berjuang bersamamu dan teman-teman. Aku tidak perduli seberapa banyak jumlah Tentara itu, aku tak perduli seberapa mengerikan senapan-senapan itu. aku tetap ikut” Tegas Asih

“Anak-anak yang masih kecil sudah tidak sanggup lagi berjalan, lagipula mereka juga masih belum pantas untuk bertempur, belum pantas untuk mati. Pergi dan bawalah 3 anak ini, besarkan mereka, rawatalah mereka, dan persiapkan mereka.”

Mendengar itu Asih pun mengerti dan segera pergi membawa 3 anak tadi. Dengan anak lain yang tersisa sedikit mereka pun melanjutkan perjalanan mereka mencari jalan perjuangannya. Hingga berhentilah mereka di suatu tempat.

Asap tebal membumbung tinggi dari balik pepohonan, Wiro dan teman-temannya penasaran dengan apa yang terjadi dan menghampiri asap tersebut. Mereka pun memantau dari balik semak-semak sambil berjaga-jaga bila ada Tentara Belanda.

Betapa terkejutnya mereka, yang terlihat di depan mata mereka adalah para Tentara Belanda yang tengah melakukan pembakaran gubuk-gubuk rumah penduduk, persis seperti yang mereka alami di desanya. Ini adalah saat yang tepat bagi anak-anak itu untuk membalaskan dendamnya. Takdir telah mempertemukan mereka dengan musuh yang selama ini mereka cari.

Namun, entah mengapa anak-anak itu tak bisa berbuat apa-apa, bergerak pun mereka tidak bisa. Sepertinya rasa takut dan trauma yang besar kembali menyelimuti mereka. Mereka hanya bisa diam menunggu seperti yang pernah mereka lakukan di lumbung padi waktu itu.

Tak disangka salah satu Tentara itu memergoki keberadaan mereka sehingga mereka pun ditangkap. Anak-anak itu tak bisa berlari menghindar karena sudah terkepung. Senjata-senjata yang mereka bawa tadi jatuh bersama keberanian dan semangatnya yang telah runtuh. dengan kasar mereka diikat dan dibawa ke markas Tentara Belanda.

Setelah sampai disana, mereka semua pun dimasukkan ke dalam kurungan penjara bagaikan hewan ternak yang diikat di kandangnya. Disana mereka bertemu dengan tawanan Pribumi lain yang rata-rata dari mereka adalah orang-orang dewasa. Kehadiran anak-anak itu pun membuat semua orang yang ada disana terkejut sekaligus terheran bagaimana anak-anak ini dapat berada di sini. Wiro pun menceritakan semua kisahnya, menceritakan bagaimana sedihnya ia ketika melihat kampung halamannya hancur, menceritakan betapa kecewanya ia tidak bisa melawan penindasan tersebut, menceritakan betapa menyesalnya ia karena tidak berani mengangkat senjata untuk membunuh prajurit-prajurit itu.

Mendengar semua perkataan itu seluruh orang yang ada di penjara itu terhening dan saling menatap satu sama lain. Hingga muncullah tawa dari seorang kakek tua yang berada di pojok ruangan.

“Di umurku yang tinggal sedikit ini, tak kusangka aku bisa bertemu anak-anak pemberani seperti kalian, sungguh anak yang luarbiasa” Ujar Kakek itu sambil tertawa.

Semua mata pun tertuju pada Kakek itu, tak terkecuali dengan Wiro yang masih bingung dengan apa yang diucapkan Si Kakek.

“Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kakek katakan, mengapa kakek menganggap saya pemberani. bukankah kakek juga mendengar perkataan saya bahwa saya telah gagal”

“Nak, sebuah biji kecil memerlukan waktu dan proses yang panjang untuk tumbuh menjadi sebuah pohon yang berbuah banyak, kau harus tau itu. Kau masih kecil, perjuanganmu bukan hanya mengangkat senjata semata. kalian anak muda masih harus banyak belajar.

Tugas kami yang masih tua ini adalah melindungi kalian, agar kalian bisa tumbuh besar, hingga menjadi pohon yang kokoh untuk kami sandari nanti. kalianlah alasan kami yang sudah tua ini untuk berjuang, jika kalian mati sekarang maka kami tak punya apa-apa lagi untuk diperjuangkan”

Ucapan Kakek itu pun membuat Wiro jadi sadar dan bangkit kembali. Namun, Wiro sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi karena ia dan teman-temannya sudah tertangkap dan tak bisa keluar lagi.

Singkat cerita malam pun menjelang, tak ada penerangan apapun di dalam penjara, semuanya gelap gulita. Semua orang tertidur ditemani dinginnya angin malam. Hingga tiba-tiba suara besi yang dipukul membangunkan Wiro, nampak bayangan hitam yang tengah memukul-mukul pintu penjara dengan pelan tapi bertenaga. Sekian lama pintu itu dipukuli, pintu itu pun terbuka.

Wiro seketika terkejut setelah melihat bahwa bayangan hitam tadi ternyata adalah Asih.

“Asih, bagaimana kau bisa ada disini. bukankah sudah kusuruh kau untuk tidak ikut” Tanya Wiro dengan nada yang lirih

“Ceritanya panjang, yang pasti orang-orang yang ada di desa datang untuk ikut berjuang bersama kalian. sekarang mari kita pergi dari sini”

Wiro pun segera membangunkan semua orang untuk pergi. Sedangkan di luar terdengar keributan dan suara tembakan yang sepertinya berasal dari pertempuran antara penduduk dengan pasukan Belanda.

Setelah semua orang berhasil keluar, para orang dewasa dan anak-anak pun ikut bertempur membantu penduduk desa melawan pasukan Belanda. Jumlah Pribumi yang jauh lebih banyak dibandingkan para Tentara itu membuahkan keuntungan. Pertempuran sengit yang menjatuhkan banyak korban itu kini dimenangkan oleh kubu Pribumi. Pasukan Belanda yang masih tersisa semuanya kabur tak tentu arah.

Ini adalah satu langkah dari perjalanan panjang yang akan ditempuh orang-orang itu, mereka tau masih banyak markas Militer Belanda yang tersebar di wilayah lain. Malam selalu semakin kelam sebelum fajar datang. Yang tua mempersiapkan yang muda, dan yang muda memberi harapan kepada yang sudah tua. Perjuangan akan terus dilakukan demi sebuah Kemerdekaan.

Penulis : Gunawan Wiratama XII TKJ SMK Cendika Bangsa

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terbaru

Pengumuman Hasil Administratif Staff Keuangan – SMK Cendika Bangsa
September 20, 2020By
Pengumuman Hasil Seleksi Administratif Tenaga Pendidik – SMK Cendika Bangsa
September 20, 2020By
Kurikulum SMK Cendika Bangsa 2020/2021
September 14, 2020By
We are using cookies to give you the best experience. You can find out more about which cookies we are using or switch them off in privacy settings.
AcceptPrivacy Settings

GDPR

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x