smkcendikabangsa@yahoo.com 0341-391450

APALAH MERDEKA (JUARA I lomba Cerpen HUT RI 75 SMK Cendika Bangsa)

SMK Cendika Bangsa > karya cendika > APALAH MERDEKA (JUARA I lomba Cerpen HUT RI 75 SMK Cendika Bangsa)

APALAH MERDEKA

Oleh: Mohamad Heriswang

“Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang”.

Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945

Tiga belas juli tahun 2018, Sembilan belas pendekar yang datang dari negeri perbatasan Malaysia dan Indonesia. Sekarang mereka dididik disebuah sekolah yang ada dipulau jawa. Saat ini mereka dibawah naungan serta bimbingan seorang bapak kepala sekolah.

“Selamat datang anak-anak semua dipulau jawa, selamat datang di sekolah kami anak-anakku sekalian” kata seorang bapak kepala sekolahn dengan senang hati. “Terima kasih kepada bapak dan ibu pembimbing dari pihak sabah bridge yang sudah memilih kami sebagai mitra sekolah pilihan anda. Semoga anak-anaknya semua bisa mengikuti dengan baik semua jenis akademik yang kami berikan dan ukirlah prestasi disekolah ini dengan sebanyak-banyaknya.”

Sembilan belas pendekar itu pun mendengarkan dan menyimak apa yang dikatakan bapak sekolah sambil bertepuk tangan.

“Syukur alhamdulilah. Mudah-mudahan kalian sembilan belas orang ini bisa menentukan masa depan kalian dan berakhlak mulia setelah lulus dari jenjang SMK disekolah ini. Terima kasih.”

Tiba dari perbatasan, kesembilan belas anak itu hanya mengetahui kalau mereka ditempatkan disebuah asrama.

Tetapi,

Takdir dan kenyataan berbeda bahwa mereka ditempatkan disebuah pondok pesantren. Pondok pesanten ini juga merupakan salah satu bagian dari yayasan milik sekolah yang mereka tujui. Walaupun ditempatkan dipondok pesantren mau tidak mau mereka tetap semangat dan berjuangan mengikuti segala kegiatan yang ada. Beberapa dari mereka ada yang baru mengenal apa itu pesantren? Dan ada juga dari mereka sudah mengenal sejak hidup dari asal mereka.

Semuanya dimulai dari pondok pesantren ini, mulai dari ibadah yang teratur sampai segala aktivitas menjadi kebiasaan.

Beberapa dari mereka juga, ada yang baru meinjakkan kaki pertama kali di ibu pertiwi. Mulai dari segi orang tua yang dulunya berasal dari Indonesia lalu berhijrah ke perbatasan Malaysia sehingga mereka lahir disana lalu tidak kembali lagi. Pertama kali ke ibu pertiwi bukan berarti mereka belum mengenal apa itu ibu pertiwi? Justru, mereka sudah tahu berbagai ragam pengetahuan tentang negeri ini. walaupun banyak sekali hal dan kendala yang menyebabkan mereka harus pulang ke ibu pertiwi untuk melanjutkan pendidikan dan merubah kehidupan keluarga mereka.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan demi perkembangan sudah muncul beberapa dari diri mereka. Seperti yang dikenal orang bahwa dimana-mana komunikasi sangat penting, yakni yang dimaksud adalah mayoritas dari mereka sudah bisa berbahasa jawa, terutama bagi anak putri yang berjumlah delapan orang dibandingkan dengan yang putra sebelas anak.

Perkembangan setiap disetiap saat menjadi begitu berharga bagi mereka. Banyak yang dari mereka sudah menciptakan berbagai macam jenis prestasi didalam sekolah maupun diluar sekolah.

Guru-guru dari kesembilan belas anak ini semua menyukai. Tetapi sebaliknya dengan para siswa. Mereka kesal.

Kesembilan belas anak ini semuanya hebat-hebat. Mereka pinter-pinter. Hampir semua organisasi sekolah ada kesembilan belas anak anak ini. Sampai-sampai ada yang pemegang ranking juara dikelasnya. Seperti dikaitkan dengan organisasi, mereka sudah banyak mensukseskan acara dalam berbagai bidang. Diantara mereka ada juga sebagian anak lokal setempat yakni orang-orang jawa yang turut mengikuti.  

Singkat cerita,

Kabar hangat bagi seluruh siswa pada mendekati bulan agustus. Terutama bagi siswa yang baru tiba dari perbatasan Malaysia. Beberapa dari seluruh siswa wajib mengisi acara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia sebagai petugas upacara.

Siswa diam.

“Semua anak-anak sekarang berkumpul dilapangan untuk saya tunjuk jadi petugas upacara dihari kemerdekaan besok. Saya milih secara acak ya biar adil dan ada perwakilan dari masing-masing jurusan ya.” Kata seorang guru selaku pelatih mereka.

Tiba-tiba ada seorang anak dari perbatasan mengangkatkan tangan dan berkata.

“Pak, apakah kami bisa pak ikut yang dari perbatasan pak?”

“Bisa anakku”.

Waktu mempersiapkan segala hal untuk melakukan latihan tidak terlalu lama. Mereka dituntut untuk latihan dengan semaksimal mungkin hingga sehari sebelum kemerdekaan.

“Aku tidak mengerti apa yang dimakdsudkan oleh bapak itu. Kita ngak bakalan bisa mengibarkan sang mereh putih apabila kita ngak latihan dan ngak dijelasin caranya. Ini berbeda saat kita pengibaran di Malaysia.” Kata seorang anak dari Sembilan belas anak itu. 

Hari terus berjalan,

Latihan dan terus latihan. Pagi sebelum pelajaran, dilanjutkan setelah pulang sekolah. Beberapa dari kesembilan belas anak itu diberikan tanggungjawab untuk mengibarkan sang merah putih, panduan suara, membaca teks undang-undang RI 1945 dan gerak jalan lainnya. Tugas-tugas yang diberikan diantara mereka ada yang sudah pernah melakukannya dihari upacara rutin setiap hari senin.

“Tetap semangat ya semua kalian harus sukses mengibarkan sang saka merah putih disekolah kita yang tercinta ini ya anak-anakku. Terutama bagi yang pengibaran, kalian dilihat orang banyak nanti. Jangan gugup. Lakukan dengan pencaya diri. Bagi yang dari luar jawa buktikan kepada orangtua kalian disana ya.” Kata seorang dari guru yang melatih.

Mendengar itu, semua siswa petugas upacara yang mendengarkan memberikan tepuk tangan dengan tanda semangat yang luar biasa sekali.

Pemimpin bersuara,

“Ayo semua, semoga kita bisa mengibarkan bendera merah putih dengan sukses dihari kemerdekaan besok. Ini setahun sekali jadi jangan sampai kita membuat kesalahan sedikit pun.” lanjut teman yang lainya. “Oke, semua tetap peduli pokoknya acara peringatan hari ulang tahun kali ini harus sukses dengan baik. Bagaimana pun caranya kita harus berkorban dengan semangat yang kita ada, berjuang dibawah terik panasnya matahari, tetap fokus yang paling utama, lakukan sesuai latihan dan selalu serius oke. Jangan sampai memalukan nama baik sekolah dengan cara seperti ini. saya yakin kalian semuanya bisa melakukan semua ini dengan baik.” Seluruh petugas pun terus bersemangat mendengarkan kata-kata lantang dari seorang pemimpin upacara.

Mereka semua tidak peduli apa pun yang akan terjadi. Walaupun persiapan untuk latihan tidak semua baik mereka jalani. Ada yang susah diatur dan ada yang tidak mau mendengarkan. Bagi mereka itu akan menjadi masalah besar bagi mereka karena semua bisa merubah sewaktu-waktu latihan menjadi tidak fiks.

“Saya mau turun latihan atau ngak ya terserah saya dong.” Ucap seorang siswa kepada temannya

“Tidak boleh gitu, kita harus latihan bersama-sama biar kompak bro.”

“Okelah” jawabnya dengan tenang.

Setelah mendengarkan jawaban itu, mereka semua yakin dan percaya pada teman-teman seperjuangan mereka demi sukses mengibarkan sang saka merah putih di sekolah tercinta. Walaupun ada beberapa kendala dan kesalahan pada saat latihan. Mereka semua tetap menjadikan pelajaran setiap kesalahan mereka walau sekecil apapun itu.

Sebagai apresiasi yang luar biasa, mereka semua digelar siswa berani oleh guru-guru disekolah. Hingga beberapa dari mereka mendengarkan ini, menjadikan penyemangat serta penuh keyakinan bagi mereka untuk bisa mensukseskan acara yang luar biasa ini.

Lanjut dihari lain,  

“Hari ini adalah hari terakhir latihan untuk kita semua ya anak-anak. Semoga pada saat pengibaran di tanggal 17 agustus besok, kalian bisa membuktikan kalau kalian adalah yang siswa terbaik dan pemberani ya. Ini adalah perjuangan kalian. Usaha dan hasil keringat kalian akan terjawab di hari besok ya anakku.” kata seorang bu guru kepada mereka semua.”

Waktu yang ditunggu kini tiba,

Tepat ditanggal tujuh belas agustus tahun 2019. Jam 09:35. Bendera sang merah putih megah berkibar ditiangnya serta diiringi lagu Indonesia Raya dari para siswa dan guru.

 Bapak kepala sekolah naik ke podium untuk menyampaikan amanat.

“Merdeka…Merdeka sekali Merdeka tetap Medeka. Selamat semuanya, anak-anakku yang sudah sukses mengibarkan sang saka merah putih tanpa ada kesalahan sedikit pun. Ini tandanya kita sudah mengabdi dengan rasa cinta nasionalisme pada negara kita sendiri yakni Indonesia. Terima kasih untuk semua yang hadir diupacara hari ulang tahun negara kita yang ke-74 ini. mudah-mudahan dengan di hari bahagia ini, sekolah kita semakin maju dan terus berkembang dan tetap menanamkan rasa cinta nasionalisme pada ibu pertiwi yang kita cinta ini. akhirul kallam. Merdeka…Merdeka!!! Assalamualaikum warohmatulahi wabarakatuh.”

Amanat inspektur upacara dan doa penutup kini kelar dibacakan. Menandankan acara sudah selesai. Kini saatnya merayakan keberhasilan para petugas upacara. Terutama bagi siswa perbatasan sangat senang sekali melihat usaha mereka yang belum pernah mereka laksakan sejak lama diperbatasan, dihari ulang tahun Republik Indonesia sebesar yang mereka bayangkan lalu terlibat dan diberi bertanggungjawab untuk menjadi seorang petugas upacara. Disamping itu, bukan hanya mereka saja yang turut senang tetapi siswa lokal juga sangat bangga dapat berkolaborasi penuh semangat dengan anak buruh migran Indonesia perbatasan yang menjadikan mereka akrab layaknya Indonesia yang penuh ragam.

“Hallo semua anak-anakku yang bapak banggakan selama ini, kini kalian sudah sukses mengibarkan sang saka merah putih ditiangnya. Keren ya semuanya. All the best.” Apresiasi dari seorang guru yang melatih. Lanjut guru lainnya,dengan perasaan penuh semangat. “Keren ya suara pemimpin upacaranya tadi, lantang gitu.”

“Tetap semangat semua?!”

“Tetap pak”

Sukses adalah hak milik semua orang yang ingin berusaha. Petugas upacara yang begitu luar biasa sekali bisa membuktikan jika mereka bisa mengibarkan sang saka merah putih dihadapan siswa dan para dewan guru yang hadir. Siswa yang tidak dipilih menjadi petugas bukan berarti mereka tidak berpotensi di hal itu. Tapi semua siswa bisa membuktikan dengan apa yang mereka bisa dengan berjuang.

Semangat untuk terus berjuang mengapai kemerdekaan bukan mudah seperti yang kita bicarakan. Bagi yang bertugas, mereka adalah pejuang berani alias siswa terbaik disekolah mereka. Semua guru-guru percaya walau mereka digabungkan dengan siswa lokal dan non-lokal. Bukan berarti menjadi masalah untuk para guru-guru tidak membedakan seluruh siswa yang ada disekolah. Siswa semuanya ada potensi. Bagaimana pun mereka adalah calon pemimpin bangsa ini.  

Merayakan kemenangan dari sebuah keberhasilan mengibarkan bendera pusaka bukanlah mudah seperti yang kalian bayangkan. Walaupun hanya tingkat sekolah, kita melihatnya lihat didepan mata sangat mudah. Tetapi dibalik itu semua, para para petugas upacara sudah bejuang dan rela mengorbankan diri mereka digembleng dibawah terik panas matahari sehingga bisa sukses seperti apa yang kita lihat saat ini.

“Mantap, Salute bapak dengan kalian!” kata bapak kepala sekolah dengan bangga.

Teruskan perjuangan kalian.

(Apalah Merdeka, Mohamad Heriswang, 18 agustus 2019)

Penulis : Mohamad Heriswang XII Perhotelan SMK Cendika Bangsa

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Berita Terbaru

Pengumuman Hasil Administratif Staff Keuangan – SMK Cendika Bangsa
September 20, 2020By
Pengumuman Hasil Seleksi Administratif Tenaga Pendidik – SMK Cendika Bangsa
September 20, 2020By
Kurikulum SMK Cendika Bangsa 2020/2021
September 14, 2020By
We are using cookies to give you the best experience. You can find out more about which cookies we are using or switch them off in privacy settings.
AcceptPrivacy Settings

GDPR

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x